Minggu, 13 Januari 2013

Tak Mudah Tuk Terganti

D

alam dunia pendidikan, yang namanya siswa baru pasti tak asing dengan istilah OSPEK. Semacam ujian untuk melatih mental dan fisik. Tapi kadang OSPEK disalah gunakan oleh kakak senior. Ajang ini biasanya digunakan untuk mengerjai adek kelas baru.
OSPEK tahun ini OSIS SMA Bhakti Raya memberikan tugas kepada siswa baru untuk mengumpulkan berbagai macam atribut, salah satunya mengumpulkan air 7 rasa. Air tawar, air garam, air sirup, air kecap, air kelapa, air lumpur dan air comberan. Air-air tersebut diikat dengan tali sehingga menyerupai kalung. Dalam 3 hari kedepan para siswa baru diwajibkan mengenakan atribut yang diperintahkan OSIS, bagi yang tidak mengenakan kalung air akan mendapat hukuman.
Di hari pertama OSPEK siswa baru harus datang jam 6 pagi. Namun tidak dengan Nena. Nena telat berangkat karena kesiangan bangun. Atribut yang diwajibkan anggota OSIS belum dikenakannya. Termasuk kalung air 7 rasa itu.
Ketika Nena hendak lari menuju lapangan ia tersandung batu yang mengakibatkan kalung air 7 rasanya melayang ke arah Netty wakil OSIS SMA Bhakti Raya.
CporttTTTt.... tepat mengenai kepala Netty.
 Netty menatap ke arah Nena dan segera menghampiri Nena yang masih tersungkur. Teman-teman Nena yang ada di dalam barisan tertawa cekikikan menyaksikan kejadian itu. Termasuk satu cowok yang berada di barisan paling belakang, dia sampai tak kuasa menahan tawa kerasnya.

Akhirnya hukumanlah yang kini harus diterima Nena dan juga cowok tanpa nama itu. Hukumannya membersihkan semua toilet di gedung X. Saat itulah mereka berdua jadi saling kenal.
OSPEK selesai. Pagi ini pembagian kelas baru. Nena mendapat kelas X-2. Kelas ternyata sudah ramai dipenuhi teman-temanya. Dilihatnya tidak ada bangku kosong selain bangku di pojok kiri belakang. Penghuni bangku itu tak lain cowok yang dulu dihukum bersamanya membersihkan toilet.
“Hai Renal boleh ikut duduk sini. Soalnya udah penuh semua.” sapa Nena membuka pembicaraan.
“Boleh, duduk aja Na.” Renal mempersilakan.
Jam pelajaran belum efektif, jadi para siswa kelas X menggunakan waktu kosong ini untuk mengisi formulir ekskul.
“Kamu pilih ekskul apaan Na?”
“Karate aja, nerusin dari SMP dulu. Lah kamu pilih yang mana? Basket ya?” kata Nena asal tebak.
“Lho, kok tau Na?”
“Kelihatan dari muka kamu yang kayak ring basket.”
“Sialan..” tawa mereka meledak kemudian.
H
ari Kamis sepulang sekolah ada ekskul karate. Setelah bell akhir pelajaran berbunyi Nena segera berlari ke kamar mandi untuk ganti baju karate. Renal yang hari ini tidak ada acara ekskul, membereskan mejanya dan bergegas pulang.
“Mau pulang Nal?” Ucap Nena setelah sampai di kelasnya.
Renal menganggukkan kepalanya. “Duluan ya Na. Yang semangat Na.”
Semua siswa yang ikut ekstra karate sudah berkumpul di lapangan. Sesi kali ini perkenalan. Pak Bimo pembimbing ekstra karate mulai memperkenalkan dirinya. Dilanjutkan dengan perkenalan senior lainnya.
“Dan ini Revan. Dia sering sekali ikut kejuaran karate. Piala yang di sumbangkan cukup banyak juga. Nah…kalian semua jangan mau kalah.” Pak Bimo dengan bangga memperkenalkan Revan di depan mereka semua. Revan yang berdiri disamping Pak Bimo hanya tersenyum manis. Senyumannya mengingatkan Nena pada teman sebangkunya, Renal. Mirip banget.
“Sekarang siapa yang berani melawan dia?” tawar Pak Bimo yang kemudian disambut acungan jari Nena. Revan sedikit kaget juga. Baru kali ini ada anak cewek yang menantangnya.
Yak… pertandingan dimulai. Gerakan Nena begitu luwes, tak kalah luwesnya dengan gerakan Revan. Maklumlah, Nena sudah belajar karate sejak kelas 4 SD. Pak Bimo sebagai juri memperhatikannya dengan baik. Pukulan, tendangan Revan berhasil di tangkisnya. Dan ini gilirannya menendang Revan, berhasil. Revan terjengkang kebelakang dan bangun lagi. Dan kali ini Nena juga berhasil membanting Revan. Pertandingan dimenangkan Nena.
“Ayo, bangun kak.” Uluran tangan Nena tepat berada di depan muka Revan.
Pak Bimo bertepuk tangan heboh melihat aksi Nena yang mampu mengalahkan Revan. “Hebat kamu Nena. Saya senang bisa menemukan orang sepertimu.” Masih berdecak kagum.
“Ya sudah, sekarang istirahat sebentar. Nanti kembali berkumpul disini lagi.” sambung Pak Bimo.
Nena hanya duduk di rerumputan menghilangkan rasa lelahnya. Revan yang tadi duduk di dekat Pak Bimo kini melangkah menghampirinya.
“Hebat juga kamu Nena. Kamu sudah berapa tahun ikut karate Na?” perbincangan itu di sambut Nena dengan baik hingga ke topik lain.
Sayang sekali baru 5 menit mereka asyik ngobrol, pembicaraan mereka harus terhenti karena Pak Bimo menyuruh berkumpul kembali.
Akhirnya latihan karate kali ini selesai juga. Nena mengambil motornya yang ada di dekat motor Revan.
“Ya udah Kak Revan, Nena pulang duluan ya.” Pamitnya meninggalkan Revan yang masih melihatinya dari balik spion.
A
da dua laki-laki yang mempunyai wajah hampir sama ketika mereka tersenyum. Mereka berdua kakak beradik. Umur mereka hanya bertaut 2 tahun. Nama mereka juga hampir sama, Revan Dewantara dan Renal Nirwantara. Mereka berdua sangat akur dan saling menyayangi. Belum pernah terjadi pertengkaran diantara mereka.
Dulu waktu mereka kecil Revan selalu mengalah untuk Renal. Baik itu soal kasih sayang, mainan, ataupun makanan. Itu yang membuat Renal begitu menyanyanginya. Mereka bersekolah di tempat yang sama, SMA Bhakti Raya. Sekolah yang begitu luas, sehingga gedung antara kelas X, XI,dan XIInya terpisah. Kelas X di bagian timur, kelas XI di bagian tengah, dan kelas XII di bagian paling barat. Revan mempunyai hobi bermain karate, sedangkan Renal hobi bermain basket.
Tanpa mereka sadari, mereka mencintai cinta yang sama. Gadis yang sangat dekat dengan mereka sekarang ini. Nena Raiza namanya. Mereka bertemu dengan cara yang berbeda. Revan bertemu Nena saat ekstra karate. Dan Renal bertemu Nena saat menerima hukuman OSPEK dan ternyata teman satu kelas.
S
atu bulan cepat berlalu rasanya. Renal semakin akrab dengan Nena ketika di kelas. Begitu juga dengan Revan yang makin akrab dengan Nena saat kegiatan ekstra. Tanpa mereka sadari tumbuh rasa yang entah dari mana asalnya itu datang.
“Mas Bro, pernah ngerasain jatuh cinta nggak?” Tanya Renal ketika di kamar kakaknya.
“Emang kenapa nanya gitu. Lagi fall in loph ya Nal.” Jawab Revan sambil mencorat-coret kertas gambarnya.
“Kayaknya sih gitu bro. Minggu-minggu ini hati gue rasanya cekit-cekit saat dekat dengan si dia.”
“Haduh, beneran fall in loph nih. Sama siapa sih?” tanya Revan masih dengan kegiatan gambarnya.
Sempet malu Renal menjawab pertanyaan Revan, tapi diberanikannya karena tempat curhatnya saat ini hanyalah Revan. “Embb, temen sekelas sendiri bro. Orangnya itu manis, berani, pintar dan segalanya.” Kata Renal memuji Nena.
“Namanya siapa?” tanpa melihat Renal.
“Nggak bisa di kasih tau yang ini. Ntar malah loe nyariin dia di kelas bisa mampus gue.” Tawa mereka berdua menggelegar mengisi ruangan. Tapi Revan masih tidak beralih dari gambarnya. Hal itu membuat Renal yang ada di atas kasur jadi penasaran.
Renal mendekat dan menyambar gambar Revan. “Cieth, cieth… Lagi jatuh citrong juga nih? Siapa sih cewek yang ada di gambar ini?” goda Renal masih memandangi wajah di atas kertas putih. Revan segera merebut kertas gambarnya.
“Siapa sih, kayaknya gue kenal deh wajah itu. Tapi siapa ya, kok jadi lupa.” Ucap Renal kemudian.
“Nggak siapa-siapa. Loe nggak kenal deh. Mendingan loe cepet nembak tuh cewek biar nggak keburu disambar orang.” saran Revan mengalihkan pembicaraan.
“Ya sih ada rencana buat nembak dia, tapi gue masih grogi buat ngutarainnya.”
“Ya itu jadi urusan loe. Udah ah gue ngantuk, balik ke base camp loe sana.”
Renal segera keluar dari kamar Revan tapi belum sampai menutup pintu, dia masih berkata sesuatu. “Loe juga cepetan nembak tuh cewek, kalau nggak keburu tuh cewek nggak mau.” Renal lari sebelum Revan melemparinya dengan guling.
P
ulang sekolah Renal mengajak Nena ke taman kota. Padahal sepulang sekolah nanti Nena ada latihan karate, tapi karena dipaksa Renal akhirnya Nena mau.
“Emangnya kita mau ngapain ke taman?” tanya Nena setelah sampai di taman kota.
Yang ditanya malah diam. Rencananya Renal akan mengutarakan isi hatinya ke Nena. Hatinya terasa dag dig dug seerr. Bingung, nggak tau musti darimana ia harus bicara. Otaknya berputar-putar merangkai kata-kata.
“Renal kamu kenapa? Kok ditanya malah diem aja, ada apaan sih?”
“Nena, aku suka kamu.” Ungkapnya pelan.
“Apa? Nggak denger.” Kata Nena pura-pura nggak dengar.
Renal mengulangi kata-katanya lebih keras. “Nena Reiza a-ku su-ka ka-mu.”
Nena menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas ungkapan perasaan Renal yang kemudian disambut senyuman bahagia Renal. Sebenarnya Nena juga sudah lama suka sama Renal, tapi dia juga tidak tau gimana caranya ngungkapin perasaannya itu.
Disisi lain, di atas rerumputan hijau Revan masih terbaring melihat kumpulan awan yang berjalan di langit. Padahal latihan karate telah usai dari tadi. Pikirannya melayang memikirkan gadis yang selalu di gambarnya.
“Kenapa kamu nggak berangkat Na, padahal ada yang ingin kusampaikan. Padahal disinilah kita bisa bertemu.” Selain jarak antar kelas mereka jauh, juga karna jam pelajaran mereka yang berbeda. Hanya di ekskullah mereka bisa bertemu.
Revan memejamkan matanya sejenak masih memikirkan Nena. Tapi lamunannya buyar ketika Pak Komeng datang.
“Hei sudah sore. Cepat pulang sana.” Perintah pak Komeng satpam sekolah. Maklum sudah jam 5 lewat.
Sampai di rumah, Revan dikejutkan dengan sosok Renal dari balik pohon mangga. “Duarrrr... Hei mas bro itu muka kenapa lecek gitu sih, lupa ngangkat dari jemuran ya. Padahal gue mau bagi-bagi sesuatu.”
“Apa? Uang?” jawab Revan malas.
“Yee..uang? Gue cuma mau bagi rasa seneng karna gue udah jadian ama dia.”
“Selamet deh, gue ikut seneng. Tapi jangan lupa PJnya ya.”
“yee nggak ada undang-undangnya jadian kena biaya pajak. Eh loe gimana ama cewek impian loe itu?”
Revan mengangkat bahunya.
“Tenang masih ada hari esok.” Kata Renal mencoba menghibur kakaknya. “Mau tau nggak wajah cewek gue.”
“boleh.”
Renal memencet keypad HPnya membuka setiap folder. Di bukanya folder “Photo Ghua” yang penuh dengan fotonya dan beberapa foto Nena. “Nih dia. Cantik kan…?”
Hati Revan terasa sakit, hancur berserakan setelah melihat foto cewek itu. Kenapa wajah cewek yang disukainya bisa ada di HP Renal? Revan masih terpaku melihat gambar cewek itu.
“Namanya Nena. Loe pasti kenal dia. Dia juga ikut esktra karate lho.”
Kata-kata Renal semakin membuktikan kalau itu memang benar Nena yang disukainya.
“Bro, kok diam. Kenapa loe? Apa loe juga suka ama tuh cewek?” tanya Renal memecahkan lamunan Revan.
“Nggaklah…, bukan dia kok.” Bohong Revan.
“Untunglah bukan, kalau iya gue nggak tau harus gimana.”
Revan hanya nyengir kuda kemudian meninggalkan Renal yang masih duduk di teras rumah.
Revan masuk ke kamarnya menumpuk gambar-gambar Nena dan menyimpannya ke dalam kardus dan di taruhnya di atas lemari.
T
iga bulan sudah Renal dan Nena jadian. Sudah tiga bulan juga Revan belajar melupakan Nena. Hari minggu ini Renal mengajak Nena datang ke rumah. Baru kali ini Renal berani mengajak cewek datang ke rumah. Mama Renal mengajak Nena membuat kue yang ditemani Renal. Di sela-sela mereka memasak kadang terlontar candaan mereka bertiga.
“Kok mau sih sama Renal. Dia kan jelek Na.” ucap mama Renal.
Renal menekuk mukanya. “Yah mama, kok anaknya di jelek-jelekin di depan calon mantu sih.”
Nena membelalakkan matanya. “Masih di bawah umur.”
Dari atas tangga Revan dapat melihat senyum bahagia mereka semua. Malah Revan juga ikut senyum-senyum sendiri. Tapi di balik itu hatinya tergores rasa pedih. Di singkarkannya rasa yang dulu sempat menggelayutinya.
“Gue nggak boleh sedih. Gue rela Nal, Nena jadi milik loe. Gue ikhlas.”
Revan tidak mau lagi terlarut dalam kesedihannya, dia juga ingin merasakan kebahagian adiknya. “Wah-wah seru nih, ikutan dong.”
“Lho kak Revan. Kok ada disini?” kata Nena yang terkejut melihat kehadiran Revan.
Pertarunganpun terhenti sejenak. “Dia kan kakakku say.” Jelas Renal yang masih mencengkeram tepung.
“tapi kamu sama kak Revan nggak pernah cerita soal diri kalian.”
“buat apa cerita tentang nih anak, mending gue lempar aja pake tepung ini.” Perang tepung kembali terjadi, papa yang tadinya ada di teras juga ikut bergabung dalam pertempuran.
Hari ini pun berakhir, Nena berpamitan dengan kedua orang tua Renal dan tentunya juga dengan Revan. Rasanya bahagia banget hari ini.
R
enal berlari ke kamar Revan dengan tergesa-gesa. 10 menit lagi dia harus sudah sampai di lapangan basket sekolah. Sepatu yang biasa dipakainya masih basah karena dicuci mamanya, makanya ia masuk ke kamar Revan untuk meminjam sepatu. Sepatu Revan di letakkan di atas lemari dekat dengan kardus kecil yang kemudian menarik perhatian Renal untuk membukanya.
Gambar-gambar cewek yang waktu itu. “siapa sih ini cewek?” pertanyaan itu kini mengusik pikirannya. Bukan hanya gambar saja, ada puisi dan catatan kecil. Yang isinya membuat Renal berkedip tak percaya. 
 
Kamu mungkin tak merasakannya
Tapi hanya aku yang rasa
Aku hanya dapat menyimpan rasa ini
Sendiri
Tanpa kamu
Saat ku tau kau menjadi milikya
Hancur hati ini
Kenapa kau menjadi miliknya??
Bukan jadi milik yang lain??
Bukan untukku dan bukan untuknya…
Bagiku ini semua tak adil
Tapi jika aku harus melepasmu untuknya
Akupun rela
NENA……

“Kita menyukai gadis yang sama. Kenapa loe nggak bilang kak?”
Hari minggu ini sekolah terlihat sangat ramai. Mereka yang akan mengikuti lomba bulan Desember mendatang wajib hadir untuk latihan. Renal mendrible bolanya dengan lesu, tak ada semangat berkobar seperti biasanya.
“Nal, loe niat nggak sih?” muak Dody melihat tingkah Renal yang nggak semangat.
Renal melempar bolanya ke Dody dan meninggalkan teman-temannya terbengong di lapangan. Renal berlari ke lapangan outdoor sekolah. Dari balik pohon dia dapat melihat sosok kakaknya yang sedang memperhatikan Nena. Mungkin dari situ dia tau kalau kakaknya masih menyukai Nena.
Renal dikejutkan dengan Nena yang kini berada di sampingnya. “Lho Say kok disini, nggak latihan?”
Seketika lamunannya buyar. “Liatin sayangku latihan.” Bohong Renal.
Nena hanya tersenyum malu. Renalpun membalas senyuman Nena walau di dalam hatinya sekarang sedang gusar.
“Jangan lupa ya, 2 minggu lagi. Aku tungguin kadonya.” Kata Nena mengingatkan.
“Iya bawelku sayang.”
Senja merona berderet di langit. Latihan semua ekstra telah usai. Renal memakirkan motornya di bagasi. Revan yang sudah pulang dari tadi masih duduk santai di teras rumah.
Kriting tuh muka.” sapa Revan.
Renal tersenyum kecut. “Belum gue rebonding.”
“Gue mau nanya. Kalau seandainya kita suka cewek yang sama gimana ya jadinya?”
Revan yang tadinya main game di HPnya tersentak mendengar ucapan Renal yang memang tepat sasaran.“Lucu dong.”
“Apa loe rela ngelepas tuh cewek buat gue?” kini wajah Renal berubah sedikit serius.
“Gue ree..laa Nal.” Ucap Revan dengan nada berat.
“Seperti Nena?” pandangan Renal memandang lekat di mata Revan.
Revan terdiam mendengar kalimat terakhir adiknya. “Tap….
“Loe itu suka Nena. Gambar cewek itu, isi hati loe, semua itu buat Nena kan. Terus kenapa loe nggak jujur dari awal. Kenapa sih loe selalu ngalah buat gue. Gue tuh pengen sekali-kali yang ngalah. Dan sekarang gue udah tau semua. Kalau loe emang suka sama Nena gue rela ngelepas dia buat loe.”
Plakkk……kk
Tamparan tangan Revan mendarat tepat di pipi kiri Renal. “Dia bukan barang yang bisa loe buang buat orang lain semudah itu. Jadi segini dangkalnya cinta loe ke dia. Tega banget sih loe ngomong gitu.” Revan meninggalkan Renal yang masih terpaku dengan omongannya.
Sejak saat itu Revan enggan bicara dengan Renal. Tak ada sapa hangat yang biasa mereka lakukan.
S
epulang latihan Renal mengajak jalan Nena ke alun-alun kota. Wajah Renal yang biasanya ceria kini jadi mendung. Nena sudah dari tadi memperhatikannya.
“Sakit say?” tanya Nena memegang pipi Renal.
“Nggak kok say. Nggak usah khawatir gitu dong.” Jawab Renal meyakinkan Nena.
Rasa sesak kemarin sore, ingin di luapkannya juga sore ini. “Kalau seandainya ada orang lain yang suka sama kamu, dan orang itu sering mendukungmu, apa yang kamu lakuin say?”
Nena terkejut dengan pertanyaan Renal yang aneh ini.
“sekalipun dia punya darah yang satu dengan orang yang ada di hatimu saat ini.”
“lho, apaan sih ini say. Nggak ngerti deh.”
“Kak Revan.”
“Kok jadi kak Revan. Apa sih maksud ucapan kamu?”
“Kak Revan juga suka sama kamu. Sudah lama. Dia itu kakak yang baik, perhatian selalu ngalah buat aku. Tapi selama ini aku nggak pernah ngerti perasaannya sama sekali. Rasanya aku jadi adik yang egois. Ketika aku liat dia sama kamu, auranya beda. Wajahnya bahagia. Aku ingin liat wajah bahagia itu selamanya. Jika dengan kamu dia bahagia, aku rela ngelepas kamu untuknya.”
Nena tak kuat lagi mendengar  omongan Renal. “Semudah itu kamu bilang begitu?” Nena melangkah pergi dengan buliran bening yang kini membasahi pipinya. Nggak nyangka Renal bisa bicara seperti itu. Apa ini akhir kisah cintaku, batin Nena.
Renal yang masih terduduk di bangku taman kota hanya dapat melihat kepergian Nena. Dia ingin mengejarnya, tapi tubuhnya berat untuk bangun dari kursi. “Apa yang gue lakuin? Nena maafin gue.”
14
 Desember, hari perlombaan Pekan Olahraga dan Seni. Sekaligus hari ulang tahun Nena. Semenjak kejadian sore itu hubungan Revan, Renal, dan Nena agak merenggang. Di rumah Revan tidak pernah mengajaknya bercanda lagi. Nena juga pindah tempat duduk untuk menghindari kontak dengannya.
Lokasi perlombaan terpisah. Lomba basket, tennis, dan tennis meja di selenggarakan di lapangan KODIM. Lomba futsal, voly, karate, dan lomba akademis berlokasi di SMA Tri Sakti.
SMA Bhakti Raya berhasil masuk pertandingan final di lomba basket, tennis meja, karate, dan LCC.
Di menit-menit terakhir, Renal berhasil nge-shoot si bola orange itu ke ring dengan mulus. Dengan begitu SMA Bhakti Raya yang menjadi pemenangnya. Renal dan teman-temannya tertawa gembira atas kemenangan mereka.
Renal mengirim pesan ke salah satu temannya yang menjadi sporter di SMA Tri Sakti menanyakan gimana hasil lomba karate. Kata temannya, Nena akan bertanding di final ini. Renal tersenyum bangga. Renal segera mengganti baju team basketnya dengan seragam OSIS.
Sore ini Renal berencana akan meminta maaf sama Nena. Batinnya selama ini bersedih atas perbuatannya sore itu. Sebelum ke SMA Tri Sakti, Renal mampir ke toko boneka untuk mengambil boneka yang dipesannya 5 hari lalu. Sepasang boneka Teddy Bear yang saling berpegangan tangan. Diselipkan amplop kecil berwarna pink. Lalu di bungkus rapi oleh sang pelayan.
Ketika melewati Jl. Pemuda, Renal dikejutkan dengan anak SMA yang sedang tawuran. Ia tidak tau kalau bakal ada tawuran disini. Tiba-tiba datang segerombolan anak SMA menghampirinya, tanpa diduga salah satu dari mereka menusukkan pisau ke perut Renal. Mereka mengira Renal salah satu dari SMA musuh. Mereka semua berlari, meninggalkan Renal yang kini terkapar di jalan. Seorang saksi mata segera membawa Renal ke rumah sakit.
Akhirnya pertandingan Pekan Olahraga dan Seni selesai juga. Nena yang berhasil meraih juara I mendapat ucapan dari banyak temannya. Tak terkecuali Revan. Saat Revan sedang berbincang dengan Nena, HP Revan berdering.
Air muka Revan berubah setelah menerima telephon. Terdengar nama Renal disebut-sebut. Nena mencoba mendekat ke arah Revan. Setelah menutup telephon Revan segera menggandeng tangan Nena dan menuju parkiran. Dijalankannya motor itu sekencang mungkin. Nena semakin khawatir dengan semua ini.
Air mata Nena kini tak terbendung lagi, ketika melihat tubuh Renal yang kaku dan berlumur darah. Nyawa Renal tak tertolong lagi, tusukan pisaunya cukup dalam mengenai hatinya. Nena memeluk erat tubuh Renal.
“Renal….!!! Bangun dong, jangan tinggalin aku. Aku masih sayang kamu. Bangun Nal, bangun. Inget nggak ini hari ultahku, kamu janji bakal ngasih aku kado. Mana kadonya? Apa ini kadonya? Kamu mau ninggalin aku lagi? Kamu itu egois Nal.”
Revan yang tak kuasa melihat kejadian ini keluar dari ruangan. Mama Renal memeluk Nena yang masih menangis tersedu-sedu.
“Nena sayang, Renal sudah nggak ada. Kamu yang ikhlas ya, tante tau pasti ini berat. Tapi sebelumnya Renal juga merasakan kesedihan yang kamu rasain. Setiap hari ia mengurung diri di kamar. Nggak bisa seceria dulu. Sekarang ini Renal pasti sedih kalau liat kamu begini. Tolong ikhlasin anak tante ya Na.”
Nena masih tersedu di pelukan mamah Renal. Untuk terakhir kalinya Nena memeluk erat tubuh Renal dan mencium keningnya sebelum di mandikan. “Renal, bahagia disana ya, aku sangat mencintaimu.” Air matanya kini kembali mengeluarkan buliran bening.
Keesokan harinya jenazah Renal di semayamkan. Buliran bening kini membasahi setiap pipi orang yang mengantar kepergian Renal. Mama, papa, Revan, Nena, teman-temannya. Secepat ini Renal meninggalkan mereka semua. Tamu yang hadir satu-persatu meninggalkan pemakaman. Tinggal Nena dan Revan. Revan menyerahkan sesuatu ke Nena.
“Nena. Ini dari kado buat kamu, dari Renal.” Revan menyerahkan sepasang boneka Teddy Bear.
Dibuka plastik pembungkusnya dan dibaca surat dalam amplop pink. 
 
To : My lovely Nena
Hppy B’day cya9, do’aq slalu u/ qm. Lucu ga kado.ny?? spasa9 boneka ni lmba9 cnta qt, yg smg s.abadi cnta spasa9 Teddy Bear ni.
Q jg mnta maf ats k.jadian waktu tu. Dh bwt qm na9is. Tw ga, hatiq trsiksa ba9et tnpa qm. Q em9 cwo’ bego’.
Mafin q Nena, ni y9 trkhr n’ jnji ga kn nyktin qm lg. Trsenyum lagi u/q.
Always luph U. Muaahhcc.
                                                          Your lovely Renal (^-^)
Nena kembali menitikkan air matanya. Revan yang ada di sampingnya memeluk tubuhnya.
“Kak…”
“Yaa….”
“Renal pernah bilang kalau kakak suka sama aku. Maaf ya kak, aku nggak bisa nerima kak Revan lebih dari seorang kakak. Hatiku ingin hidup bersama Renal.”
Revan melepas Nena dari pelukannya. “Nggak apa Na. Perasaan tercipta tidak untuk dipaksakan. Kalau yang terbaik seperti ini kakak terima. Tapi kalau ada masalah atau apa tolong cerita ke kakak. Jangan sedih lagi ya, Renal pasti ikut sedih kalau lihat kamu nangis gini. Biarkan dia bahagia disana.” pesan Revan sambil mengusap air mata Nena.
Nena mencoba untuk tegar. Mereka berdua meninggalkan pemakaman Renal. “Sayang makasih untuk semuanya. Maaf aku nggak bisa mencintai Kak Revan seperti mencintai dirimu. Izinkan aku menyimpan cintamu sampai kapanpun. Love you Renal.” Ucap Nena dalam hati.

Senin, 24 Desember 2012

Nggak Ada Salahnya Punya Mimpi



 Senyum keceriaan terpancar di raut muka anak-anak jalanan di pinggiran kota Jogja. Walau mereka kesehariannya ngamen tapi mereka tak henti-hentinya menimba ilmu dari Bayu. Belajar, bermain dan bernyanyi bersama, setiap jam 4 sore dekat taman kota. Disana juga ada Imron dan Jingga teman kuliah Bayu yang tertarik untuk membagi ilmu dengan orang kecil seperti mereka. Walau dulu pernah di serang para preman karena mengajak anak buah mereka belajar, tapi Bayu tak kapok untuk mengajar mereka kembali. Malah sekarang para preman itu mengizikannya mengajar disitu.
Ketika sore hari Bayu membagi ilmunya dengan anak jalanan. Di malam harinya Bayu menjadi pelayan di sebuah rumah makan. Lumayan buat tambah-tambah tabungan masa depan. Memang dia mendapat beasiswa kuliah, tapi dia juga butuh uang untuk memenuhi kebutuhannya.
Bayu masih terduduk diam di bawah pohon mangga mendengarkan alunan suara murid-muridnya. Pandangannya menerawang jauh. Membuka kenangannya bersama Oky sahabatnya, ketika ia masih sekecil murid-muridnya ini. Memetik setiap senar gitar mengelilingi dari satu motor ke motor lain di persimpangan jalan Fatmawati. Untuk mencari uang demi sekolah.
“Bay, udahlah kita ini orang nggak punya, jangan ngimpi sekolah tinggi-tinggi.” ucapnya sering kali ketika melihat Bayu yang bekerja keras mencari uang untuk biaya sekolah.
“Kamu tau kan cita-citaku pengen jadi apa? Aku ingin jadi Guru. Agar aku bisa membagi ilmuku sama anak-anak seperti kita ini. Aku nggak mau seperti kamu Ky, yang malah niatan nggak mau putus sekolah sampai SD aja. Aku akan berhenti setelah meraih mimpiku. Kalau bisa aku akan mendirikan sekolah untuk mereka.”  Oky sebagai sahabatnya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat kelakuan Bayu yang emang keras kepala.
Bayu tersenyum melihat bayangan kecilnya melayang-layang  dibenaknya. Sentuhan tangan Arya membuyarkan angan-angan Bayu di masa lalu.
“Mas Bay, udah sore nih. Pulang dulu ya, mau bantuin si Mbok di rumah.” Pamitnya pada Bayu.
“Walah, tumben Ar. Biasanya kamu Cuma bisa ganggu si mbok aja. Eh iya besok mas mau pulang ke Semarang, jadi satu minggu ke depan mas nggak bisa ngajar dulu. Sementara belajar sama mas Imron dan mbak Jingga.
“Yeeeahhh... nggak ada cerewatnya mas Bay lagi dech.” Protesnya dengan manja. Tapi itu cuma bercanda.  Saking gemasnya Bayu mengacak-acak rambut Arya.
^_*
Sudah lama Bayu tak melihat keadaan kampungnya. Rasanya seperti sudah puluhan tahun ia meninggalkannya. Semenjak ia sekolah di Jogja ia tak pernah pulang ke kampungnya lagi. Sosok Oky yang muncul dalam bayangannya kemarin membuatnya ingin berjumpa dengan sahabat kecilnya itu. Kini ia berdiri didepan rumah kecil yang dulu ia tempati.
“Bayu.!!” Suara Oky dari balik pintu mebuyarkan lamunannya. Reflek Oky memeluk Bayu teman kecil yang sangat dirindukannya.
“Gimana kabarnya ibu? Kangen nih sama masakannya.” Katanya setelah melepaskan pelukan  erat Oky.
“Masuk. Ibu....., anak bagusmu yang keras kepala datang nih. Kesini cuma mau minta makan... Hahahaa” teriak Oky memberi kabar setelah mempersilahkan Bayu masuk.
Bayu hanya cengengesan mendengar ocehan Oky yang lama tidak didengarnya. Teryata keadaan ini masih sama seperti saat mereka semua masih kecil. Bayu kecil dulu tinggal di rumah Oky. Keadaannya sebagai anak jalanan yang tidak punya rumah, membuat Oky meminta ibunya untuk mengizinkan Bayu tinggal di rumahnya.
“Bayu..., sudah lama nggak pulang. Ibu kira kamu sudah lupa sama ibu dan Oky.” Bayu langsung mencium tangan bu Sasmi.
“Istirahatlah  nak, Ibu mau masak dulu. Pasti kamu sudah kangen sama masakan ibu kan?” lanjutnya kembali
Oky  menarik tubuh Bayu masuk ke kamarnya. Masih dengan ocehan-ocehan khas Oky kecil.
“Wah Bay, nggak nyangka lho kalau kamu bisa sampai kuliah.  Salut aku sama kamu, perjunganmu dulu, ckckck…” Puji Oky dengan mengacungkan dua jempol.
Bayu memang sering mendapat beasiswa dari SD-Kuliah sekarang. Semangat belajarnyalah yang membuat dia mendapat nilai bagus dan bagus. Hingga sekolah sering memberinya beasiswa prestasi.
Setelah makan siang Bayu mengajak Oky pergi ke Jalan Fatmawati. Ia ingin melihat keadaan jalan itu. Apakah masih ada anak seperti dirinya saat ia masih kecil? Ternyata masih ada, tidak  ada perubahannya sama sekali, tambah banyak malah.
“Kenapa Bay, ingat masa lalu?” kata Oky membuka pembicaraan.
“Ya, ternyata di Jogja tidak jauh berbeda dengan  keadaan disini. Pokoknya aku akan membangun sekolah dimana-mana.” Tekadnya kemudian.
“Bay..Bay dulu sekarang kamu tidak jauh beda, nggak ada perubahannya. Cita-citamu itu sudah terlalu tinggi. Kalau jatuh laaa…sakit nanti rasanya. Punya uang dari mana pengen bangun sekolah. Gayanya.”
Ocehan Oky bagaikan angin lalu bagi Bayu. Tidak akan menumbangkan mimpinya itu. “Aku inget. Akhir bulan ini  kampus mengadankan acara Lomba Seminar tahunan  bagi mahasiswa semua fakultas,  yang dihadiri orang-orang penting dan pemilik  yayasan, dan kayaknya ada donatur besar yang juga diundang.”
“Terus kamu mau nampilin potret anak-anak jalanan gitu?” sambung Oky penuh antusias.
Bayu memikirkan celetukan Oky yang ternyata sama dengan apa yang dipikirkannya. “ Nah...itu tahu, siapa tau hati merekai terketuk setelah melihatnya, dan memberikan bantuan untuk pembangunan sekolah bagi mereka yang tidak mampu.” Semangat Bayu kini semakin menggebu-gebu.
^_*
Pagi harinya Bayu mulai melakukan observasi ke berbagai tempat di sekitar tempat tinggal Oky. Dengan membawa handycame milik Jingga yang minggu lalu dipinjamnya dan belum dikembalikan. Kali ini dia sendirian tidak dengan Oky. Oky harus bekerja. Observasi pertamanya dilakukan di Jalan Fatmawati. Ditemuinya banyak anak kecil yang berada di situ. Ada yang berkeliling membawa Koran, ada yang membawa dagangan asongan, ada juga yang sedang mengelap sepatu orang. Tapi pandangan Bayu mengarah pada satu anak yang duduk di bawah pohon. Dia sedang membaca sebuah buku tebal. Bayu mencoba mendekati anak itu.
“ Hay, boleh mas duduk disini?” sapa Bayu mendekati anak itu.
Anak itu tersenyum polos dengan menggukkan kepalanya. Bayu mengamati anak itu dalam-dalam. Kemudian didekatinya anak itu dan merekamnya.
“ Bayu…..” kata Bayu memperkenalkan diri.
“ Krisna” jawabnya membalas jabatan tangan Bayu.
“ Adik ngapain disini, kok nggak sekolah?”
Krisna menutup bukunya. “ Aku jadi tukang parkir mas, hari ini nggak boleh masuk sekolah dulu karena aku nggak punya uang buat bayar  sekolah. Lumayan kan mas, kalau aku kerja disini  uangnya bisa buat nambal kebutuhan sekolah nanti.”
“ Memangnya bapak, ibu nggak kerja Kris?” kata Bayu sambil membuka-buka buku tugas Krisna.
“ Mereka pergi nggak tau kemana mas. Aku tinggal sendiri dengan nenek. Tapi nenek sudah tua, jadi nggak bisa cari uang.”
Kehidupan Krisna sekarang sama seperti yang dialami Bayu di masa kecil dulu. Hidup tanpa kedua orang tua.
“emang cita-citanya mau jadi apa Kris?”
“Kalau besar nanti bisa jadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Yaa misalkan jadi guru.” Bayu tersenyum tipis melihat ucapan Krisna, cita-cita yang diinginkan Krisna sama dengannya.
Bayu menutup handycamenya dan kemudian menjepretkan kameranya pada sosok kecil yang ada di depannya.” Mas Bay minta gambarnya ya. Pokoknya mas Bayu pesen sama kamu jangan sampai putus sekolah ya. Jangan takut menggapai cita-cita kamu.”
“Iya mas. Nenek juga bilang begitu.”
“Makasih udah mau nemenin mas Bay ngobrol. Ini ditabung ia.” Bayu menyodorkan dua lembar uang warna biru kepada Krisna.
Bukan hanya hari ini saja Bayu datang ke Jl. Fatmawati tapi selama seminggu di Semarang, dia mencari dan mengumpulkan data yang akan digunakan untuk Lomba Seminar yang akan datang.
^_*
Satu minggu sebelum lomba Seminar diadakan, Bayu sudah kembali di kota Jogja. Dari terminal bus dia langsung datang ke tempat dimana ia sering berkumpul dengan anak-anak didiknya.
“Lho Mas Bayu kapan baliknya?” kata Fitri salah satu muridnya di sekolah buatannya.
“Barusan Fit. Gimana selama mas Bayu tinggalin? Masih pada semangat belajar kan?” Tanya Bayu.
“Sekarang banyak teman-teman mas Bayu yang datang ngajar disini lho,”
Bayu terkejut mendengar perkataan Fitri barusan. Bayu jadi penasaran siapa teman-temannya itu. Mereka berdua berjalan ke tempat biasa dimana Bayu dan kawan-kawannya berkumpul membagi ilmunya. Ternyata memang benar, disana ada teman-teman Bayu selain Imron dan Jingga. Kaget dan senang juga Bayu melihatnya.
Mas Bayu, udah selesai pulang kampungnya?” Seru Arya girang.  Jingga, Imron, Mella, Erik, dan Niko yang sedang mengajar anak-anak seketika menoleh ke arah Bayu.
“Wah... Ron, Ngga, rame banget ada Mella, Erik, dan Niko juga.”
“Kami tertarik dengan kegiatan kamu, Imron, dan Jingga. Makanya kami iseng-iseng ikut maen kesini. Eh malah kerasan disini.” Ujar Mella yang kemudian menghampiri Bayu.
“Dan ternyata enak juga lho, bisa berbagi ilmu dengan mereka. Kami jadi salut dengan kalian.” Sahut Niko kemudian.
“Iya lah, mereka kan generasi muda. Harusnya mereka lebih diperhatikan dalam hal pendidikan.” jelas Imron .
“Iya… Eh Bay denger-denger kamu ikutan lomba seminar itu ya? Terus denger dari Jingga katanya mau ambil tema potret pendidikan anak jalanan?” Tanya Erik  sambil menunjuk Jingga. Bayu yang di tanya malah cuma mesem saja.
Terus gimana hasilnya?” tanya Jingga dan Imron bebarengan.
“ Nih... aku puterin rekaman yang nantinya ingin aku tampilin di lomba itu.” kata Bayu sambil membuka rekaman video yang lalu. Imron, Jingga, Niko, Mella, Erik dan anak-anak yang lainnya ikutan melihat hasil rekaman Bayu.
“Lumayan juga sih Bay... Gue dukung 3600.” Celetuk Erik setelah melihat hasil rekaman itu.
“Rencana berikutnya nih, aku pengen ngerekam kalian semua saat mengajar anak-anak. Biar nanti pas tamu-tamu pada liat nih video pada kagum. Terus kalau selesai aku nyampein seminar kalian pada minta sumbangan dari temen-temen kita yang lainnya gimana? Entah itu berupa uang atau buku. Nantinya bisa bermanfaat bagi mereka semua.” Ucap Bayu sambil menunjuk ke arah Arya dkk.
“Eh boleh juga tuh Bay.” Kata Mella menyetujui usulan Bayu.
“OK kita mau. Anak-anak ayo kita kembali belajar.” Ajak Jingga yang kemudian disahuti Arya dkk “Ayooo…”
Bayu mulai merekam aktivitas temannya ketika mengajar. Dalam hatinya ia berharap semoga hasil rekamanya nanti dapat menjadi hal yang bernilai.
^_*
Hari ini, hari yang sudah dinanti-nanti Bayu. Bayu mendapat urutan ke-4. Dalam lomba seminar ini barang siapa yang memperoleh nilai paling tinggi, dia akan mendapatkan uang beasiswa selama 4 semester. Tapi bukan beasiswa itu yang ingin Bayu cari sekarang, dia ingin menunjukkan  betapa malangnya nasib anak jalanan yang tidak mendapatkan pendidikan. Melihat hasil seminar teman-temannya yang lain, tersirat sedikit rasa cemas pada Bayu. Tapi wajah polos Arya dkk yang hinggap di pikirannya membuat semangat Bayu berkobar kembali.
Akhirnya nama Bayu di panggil juga. Jingga, Imron, Erik, Mella, dan Niko memberikan semangat dari bawah podium. Dengan tenang Bayu menyampaikan seminarnya. Di putarnya videonya bersama Krisna ketika di Semarang, dan video bersama teman-temannya di Jogja. Di akhir video Imron dkk menyampaikan satu pesan “Kita udah lihat kan betapa semangatnya mereka menuntut ilmu.  Walaupun mereka tidak punya apa-apa tapi mereka masih punya mimpi. Meskipun di pagi hari mereka ada yang jadi pengamen, tukang asongan, tukang koran, tukang semir sepatu, tapi di sore hari mereka belajar bersama kami. Meski tidak di tempat yang layak tapi kami semua bisa menikmati cara belajar mengajar yang sederhana. Semoga video ini bisa menjadi motivasi bagi kita yang masih beruntung dapat menginjakkan kaki kita sampai ke perguruan tinggi.”
Seminar Bayu mendapatkan tepukan dari kepala yayasan, seluruh dewan rektor dan teman-temannya.
“Teman-teman semuanya kami juga mohon partisipasi dari kalian semua untuk memberikan sumbangan baik itu berupa buku pelajaran atau uang. Sehingga kami bisa menyewa tempat yang layak untuk dijadikan tempat kami mengajar. Dan teman-teman semua juga dapat ikut kegiatan kami setiap sorenya.” Kata Bayu setelah mengakhiri seminarnya, yang kemudian disusul teman-temannya meminta sumbangan.
“Bayu.. Setelah acara seminar ini selesai tolong menghadap saya.” Kata Pak Hendro selaku ketua yayasan.
Acara lomba seminarpun selesai, hasil perolehan nilainya akan disampaikan besok harinya. Kini Bayu menghadap Pak Hendro yang ada di ruangan ketua Rektor.
“Begini Bay, saya punya tempat kosong di daerah kamu membagi ilmu dengan anak-anak itu. Setelah melihat video tadi saya jadi ingin menjadikan rumah nganggur saya yang ada di dekat situ sebagai tempat kalian mengajar. Saya juga akan memberikan sumbangan dana untuk membeli buku dan keperluan alat tulis sekolah.” Ucap pak Hendro kemudian. Hal itu membuat hati Bayu makin berbunga. Nggak sia-sia usahanya bersama teman-temannya.
Bayu keluar dari ruangan kepala yayasan dengan wajah datar. Teman-temannya yang melihat wajah Bayu masih menebak-nebak apa yang terjadi di ruangan kepala yayasan.
“Kenapa Bay?? Ada maslah?” tanya Erik menebak.
Bayu menganggukkan kepalanya. “Masalahnya Pak Hendro bakalan ngasih tempat buat kita ngajar, dan melengkapi fasilitas belajarnya juga.”  Ucapan Bayu barusan membuat teman-temanya yang semula cemas kini jadi tertawa riang, senang, dan gembira. Hehehe
“Terus ini dapet sumbangan dana dari teman-teman juga.” Kata Jingga kemudian.
“Buat kita aja yang ngajar…” sahut Niko asal jeplak.
“Huuuuuu……nggak ada dehhh….”  Jawab Bayu, Imron, Jingga, Erik, dan Milla bersamaan.
^_*
Esok harinya Bayu juga kembali bahagia. Nilai hasil perlombaannya kemarin mendapat urutan paling atas. Jelas dialah yang menang. Hadiah beasiswa 4 semester itu jadi miliknya.
Setelah pulang kuliah Bayu dkk langsung cabut ke rumah Pak Hendro yang nantinya akan menjadi tempat mereka mengajar. Mereka membersihkan rumah dan mengecat tembok. Di temani juga dengan Ari yang membawa pasukannya membuat pekerjaan jadi tambah ringan.
“Mas Bay, selamet ya. Makasih juga, karena mas Bayu udah mau memperjuangkan nasib kita untuk mendapatkan pendidikan. Dengan adanya tempat seperti ini kita pasti lebih bisa berkonsentrasi. Hehehe” kata Arya yang kini sedang mengelap kaca dengan Bayu.
“Iya sama-sama. Makanya semangat belajar.”
Akhirnya bersih-bersihpun selesai. tinggal nunggu hari esok sebagai peresmian tempat yang akan di hadiri oleh Pak Hendro.
Peresmian tempat selesei dengan lancar. Rumah Pintar menjadi nama tempat mengajar Bayu dan teman-temannya. Mereka mengucapkan banyak terima kasih kepada Pak Hendro atas partisipasinya.
“Saya punya usul. Bagaimana kalau selain mengajar mereka, kita juga ajarkan mereka ketrampilan. Lumayan kan hasil ketrampilan mereka bisa dijual di pasaran. Itung-itung nambah uang jajan mereka.” Usul Milla di hadapan Pak Hendro.
“Bagus juga itu.” Jawab Pak Hendro antusias yang juga diikuti anggukan setuju dari teman-temannya.
Akhirnya impin Bayu selama ini sedikit demi sedikit terwujud. Sekolah impian yang dulu hanya ocehan kini menjadi kenyataan. Bersama teman-temannya yang selalu mendukungnya ia berhasil mewujudkan itu semua.
Dan nanti setelah lulus dari kuliahnya, Bayu akan kembali ke Semarang untuk melanjutkan kuliah S2nya dan membagikan ilmunya kepada anak-anak jalanan, seperti yang dilakukannya saat ini.